CerKish

JIWA-JIWA YANG INGIN DITEMUKANGadis kecil di sudut jalan

Chapter One

PERTEMUAN

Lusuh.. dengan wajah kumalnya, nampak seperti sedang menahan perih. Kudekati gadis kecil di sudut jalan itu. Beringsut takut, ingin berlari tetapi tubuhnya seakan tak mau dan tembok-tembok dibelakangnya menghlanginya untuk lari. Siapa namamu? Sapaku lembut sambil menjulurkan tanganku ke arahnya. “Hrrgghh..’ hanya geraman dan seringai dari wajah lusuh kumal di depanku. Aku menarik tubuhku yang tadi aku condongkan. “Ada apa ? saya tidak bermaksud jahat kepadamu” tanyaku sambil menatap wajahnya yang hampir semuanya tertutup debu tebal jalanan. Siapa namamu? “Hrghhh…” dan dengan sempoyongan dia angkat tubuhnya dengan susah payah berlari menjauhiku. “Haii… ahh….” teriakku memanggilnya.. sia-sia.. akupun beranjak dari tempatku, kembali meneruskan perjalanan, ku ambil laptop dan buku yang sempat terjatuh ketika aku memanggil gadis kecil itu. Laptop dan buku, dua benda yang setia  menemaniku sejak aku sampai di kota ini. Kota ini indah, tetapi tidak seindah yang sering di bicarakan orang. Kurapikan jilbabku yang berkibar-kibar terkena angin pagi itu. Hmmm.. , gumamku dalam hati.

Masih penasaran dengan gadis kecil itu. Ada sesuatu yang membuatku tertarik padanya. Insting mahasiswa psikologi S2 semester akhir atau hanya kebanyakan membaca cerita detektif yang membuatku ingin tahu apa yang terjadi pada gadis kecil itu? Ahh.. mungkin keduanya. “Assalamualaikum Rana.. ” suara khas yang sudah aku tahu itu memanggilku.. tanpa menoleh  kujawab pemilik suara itu “Waalaikumsalam, Rangga.. gimana kabarnya? “ sahutku mendongak sejenak dan kembali menekuri buku yang ada di tanganku. “Ranaaa… kamu tuh jahat ya.. masak sekilas saja melihat ke arahku” protes Rangga.. sahabatku sejak kecil yang sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. “Hmm.. “ aku tetap tak bergeming dari posisiku semula.. “Ranaaa….” teriak Rangga kuat di telingaku “Husshh… husshh… ndak usah keras-keras teriaknya… lihat tuh… burung merpatinya pada terbang semua… “ seruku mau tidak mau menoleh kepadanya “Huh.. biarin.. habis dipanggil pelan2… akunya di cuekin” “Hei… ndak boleh egois gitu.. masak mengorbankan keasyikkan burung-burung merpati itu hanya karena dirimu” sahutku santai sambil menahan geli melihat bibirnya yang manyun. Rangga-rangga…my best friend, apalah jadinya diriku tanpamu.. gumamku dalam hati. “Baiklah… ada apa Rangga?” Tanyaku dengan tetap tidak memandangnya. “Rana… lihat wajah Rangga.. “ sahut Rangga “Heii… ndak boleh lah… gimana-gimana bukan muhrim”. “Ayolah Rana… coba lihat ada yang berbeda tidak dariku?” nada suaranya yang memelas membuatku tidak tega untuk tidak menoleh kepadanya, tetapi sebelum penuh wajahku melihat dirinya.. kutangkap sosok kecil itu berlari melintasi jalan dan kembali ke sudut yang sesaat tadi kutemukan dirinya. “Eh Rangga… sebentar ya… nitip netbookku.. jangan kemana-mana.. ” Rangga melongo kebingungan sambil melihat diriku yang berlari-lari kecil menuju tempat gadis kecil itu. Rangga bisa menunggu pikirku. “Hai… “ sapaku pada gadis kecil yang terlihat lebih lusuh dari pertama kulihat tadi. “Hrghh… “ desis yang sama seperti yang tadi kuterima. “Ndak… ndak papa.. saya tidak akan menyakitimu, saya hanya ingin membantumu” sahutku menenangkannya. “Eh.. ini.. “ aku hulurkan sepotong roti yang sempat ku sambar dari atas meja cafe tadi ke arahnya “Ayo.. ini.. ndak papa… ambilah”. Dengan takut-takut gadis kecil itu menghulurkan tangannya. “Tidak papa.. ambilah” kataku meyakinkan tangan kecil yang ragu-ragu itu. Mata garangnya mulai melunak.. meski sudut bibirnya tidak menunjukkan senyum walau guratan kecil saja.. tetapi tidak mengapa aku sedikit lega, setidaknya dia mau menerima uluran pertemananku melalui sepotong roti . “Siapa namamu? “ tanyaku . Matanya yang bersinar jernih diantara tubuh lusuhnya itu mengerjap-ngerjap basah… Hei.. dia menangis. Seruku dalam hati. “ Ada apa sayang? Mengapa kamu menangis ? ” tanyaku kembali.. Dia hanya menggeleng lemah sambil memandang ke arahku. “Baiklah.. tidak papa, kalau kamu tidak mau menyebutkan namamu, besok kita bertemu lagi ya.. akan aku bawakan roti yang lebih enak dari ini” kataku sambil tersenyum kepadanya. Begitu mendengar kata roti.. matanya berbinar dan segera mengangguk dengan cepat. “Oh ya.. nama tante Ranasya.. kamu boleh panggil Rana atau nasya.. apapun yang kamu suka , sekarang tante pergi dulu ya.. bsok kita ketemu lagi”. Akupun bangkit dari tempatku, bersamaan dengan langkah gadis kecil itu yang mulai meninggalkan diriku.  Kembali ke meja cafe dan Rangga.. eh.. Rangga.. aku teringat Rangga yang aku tinggalkan manyun di meja caffe.. Hmmm.. bakalan keluar uang buat traktir ini. Akupun berjalan kembali ke arah mejaku. “Assalamualaikum Ranggaa…“ sapaku dengan suara lembut “waalaikumsalam” jawabnya ketus.. “Hei.. jawab salamnya kok gitu… Rasulullah khan contohinnya ndak gitu” seruku sambil mataku membulat ke arahnya “Iya.. iya,.. waalaikumsalam tuan putri..” sahutnya dilembut-lembutkan  dengan bibir tetap manyun… “Haha… lebay deh.. “ sahutku sambil tertawa kecil mendengar gurauannya. “Ngejar siapa sih tadi.. sampai-sampai aku di tinggalin disini..” tanya Rangga penuh selidik , “Mau tau banget atau mau tau aja? “ sahutku sekenanya sambil mengemasi barang-barangku yang ada di meja, Rangga tambah manyun.. “Tanyain serius kok.. kamu kok kemas-kemas… kamu mau kemana Rana?” tanya Rangga kebingunagan “Ke kampus.. mau ketemu profesor Konrad” sahutku sambil berlalu.. “Yaa… Ranaaa.. terus aku gimana?” wajah Rangga yang manyun itu berubah menjadi wajah kucing imut yang memelas… “Iyaa.. nanti Rana telpon.. tentang si manis itu khan? gampaangg.. Assalamualaikum“ teriakku sambil meneruskan langkah kakiku. Rangga seketika tersenyum ketika aku sebut simanis.. ah Rangga-Rangga… ndak mungkinlah aku mengabaikan sahabat tersayang seperti kamu, meski batas-batas bukan muhrim itu tetap kujaga. Aku kembali meneruskan langkahku menuju kampus… Mister Konrad, my last destination. Eh.. salah.. ah.. Astaghfirullah.. segera bayangan yg menyeruak masuk ke fkiranku itu ku hapus cepat – Astaghfirullah kebiasaan lama yg cukup sulit hilang setelah aku mengazamkan diri menjadi seorang muslimah… hmm.. nakal kamu ini Rana.. Rana.. ( bersambung ke chapter two : rahasia air mata)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s