Flowering my world

Kisahku Tentang Bapak dan Angsa…

28 Maret 2013

Ini kisahku tentang Angsa. Entah, sudah tidak ingat lagi kapan tepatnya ini terjadi. Aku pernah membaca kisah tentang itik buruk rupa yang dikemudian hari dia menjadi angsa cantik nan indah. Kisahku ini tdk ada hubungannya sama sekali dengan kisah itu.
Sedikit melow akhir-akhir ini, teringat bapak , ya.. kali ini teringat Bapak, bukan yg lain. Aku?, bukan termasuk anak gadis yang selalu patuh pada Bapak, bahkan anak Bapak yang paling rebellius.. Mengakui itu.. Anak bungsu yg paling sering buat Bapak marah, sebel, kecewa dan khawatir pada diriku. Permintaan yang aneh-aneh dan nyleneh, anak bungsu yang paling ngerepotin Bapak.

SD, rasanya saat itu aku SD kelas 3. Rumah kami di sebuah komplek perumahan, dikelilingi tanah yang cukup luas. Lebih luas dari yg lainnya, karena penggir. Masih terbentang luas lahan sebelah kiri rumah, dan dari batas halaman yg luas itu, terbentang lagi tanah luas di sebelah kiri. Sawah-sawah luas, tepat disebalah tanah kami, menjadi tempat dimana aku dan teman-teman seringkali mencari ‘kol’ (sejenis siput sawah ) untuk dimasak dan dimakan bersama2. Atau seringkalu aku dan teman2 sekedar duduk memandangi bentangan sawah yang menguning & menghalau burung2, dan kalau kami beruntung, kami akan menemukan atau buah ciplukkan yg tumbuh liar diantara pematang sawah. Menyusuri pematang mencari jamur barat hanya sekedar untuk aku berikan ke Bapak (beliaunya sangat senang sekali dengan jamur- hanya dikukus dan diberi garam) juga menjadi salah satu hobiku.

Suatu hari, aku tidak mengerti mengapa Bapak begitu bersemangat mencangkuli seperempat halaman samping . Berhari-hari, aku bertanya “Buat apa pak? kok dicangkuli?” Bapak hanya tersenyum saja. Berhari-hari disela waktu luangnya, beliau berusaha mencangkul seperempat tanah samping rumah itu. Aku seringkali bermain-main disekitar beliau dan sesekali mengambili tanah hitamn sekedar bantu-bantu sebisaku (atau mungkin lebih tepatnya mengganggu). Berulang kali aku bertanya pada bapak.. untuk apa tanahnya dicangkuli, sampai air mulai keluar dari tanah tsb. Tapi Bapak hanya tersenyum… dan tidak memberitahuku sedikitpun, “Ayuk lihat saja nanti.. ” sahutnya.

Satu bulan… aku belum tahu akan menjadi apa tanah seperempat luas itu… “Untuk nanem apa pak? sampai keluar airnya gitu?” . Bapak tetap tidak memberitahu apapun…

Dan suatu hari, ketika ayuk pulang sekolah.. “Ayuk.. lihat disamping sana… ?” kata Bapakku sambil menunjuk ke samping rumah, ditanah yg sepanjang bulan ini amat sangat menyita waktu luang bapak. “Emang ada apa Pak?” sahutku dengan malas-malas, sambil melepas sepatu dan memijit kakiku yang sedikit capek karena harus jalan kaki dari sekolah SD kampung yang cukup jauh dari rumahku. “Sudah.. sana…” seru Bapakku sambil tersenyum. Kulangkahkan kakiku menyusuri rumah dan berjalan ke tanah seperempat luas itu…
“Ya Allaah… Bapaaakkk…” seruku tertahan… “Punya siapa itu…?” sahutku sambil menunjuk -nunjuk ke arah tanah yang sudah penuh dengan air.. “Punya kita..” sahut Bapak tersenyum… “Indah bukan?” “He ehm.. Iya… Cantiikk” sahutku tertahan sambil tetap takjub memandang ke arah tanah yang sudah penuh dengan air.
“Ayuk suka?” tanya Bapakku lirih… “He ehm.. suka bangeeeet….” seruku tertahan.
Dengan mataku tak lepas dari tanah penuh air.. Yang diatasnya, berenang dua ekor angsa putih dengan anggunnya… “Ayuk suka… Ndak nyangka, punya danau sendiri lengkap dengan angsanya.. Seruku riang.

Begitu berharganya kenangan itu… sampai saat ini.. Dua puluh tahun yang lalu, tetap teringat meski hanya tinggal jejak-jejak memori yang indah..

Terima kasih Bapak atas kejutannya yang indah.. dan terima kasih Bapak… Bapak telah menjadi ayah terbaik dan terhebat dalam perjalanan hidupku (meski pemahaman selalu datang terlambat). Semoga Allah menerima segala amal baikmu, dan menjagamu disana. Aamiin.

Terima kasih Allah, atas anugerah Bapak terhebat untukku.

For My beloved Father
Your “Spoiled” daughter

(terjemahan bebas google translate)

About My Father and Goose Story

This is my story about the goose. somehow, could not remember exactly when this happened. Once, I ever read a story about the ugly duckling became a swan later, the swan was beautiful and wonderful. there is no connection between my story and the story. A little Melow lately, thought about my beloved father, this time remembering Dad. I am Not the girls who obey the Father, even the most rebelius last daughter .. of course .. most often for my father become angry, resentful, disappointed and worried about me. Demand weird and “nyleneh” and most “ngerepotin” youngest daughter. elementary , I felt as Grade 3. Our current house is surrounded by land that is wide enough, or wide to the left after the land is our land, rice fields, and often I find with my friends “Kol” (a type of snail rice) to cook or just sit looking out over the fields or just looking for yellowing “ciplukkan” fruit. Down the embankment to the west to seek mushroom I just give it to My Father (“beliaunya” suka banget sama mushroom-even only steamed and salted).

One day, I do not understand why he was so excited about our hoe quarter yard. For days, I asked “Why Dad? tit hoeled ” Dad just smiled. For days interrupted his spare time, he tried to hoe the ground next to a quarter of the house. I often play around and around him and occasionally took the black soil and help out (perhaps rather annoying). I repeatedly asked the father .. for what the land was hoe? , until the water started coming out of the ground a quarter of that. But Dad just smiled … and do not tell me at all, “ayuk will see ..” He said. One month … I do not know what would be a quarter of the land is … “What will do you plant Dad ? Got out the water like that?” . Dad still did not tell anything … And one day, when ayuk came home from school .. “Ayuk .. see left there …?” My Dad said, pointing to the side of the house, it’s a quarter of the ground. “Really what is it sir?” I said, lazy, taking off shoes and massaged my legs which a little tired of having to walk away from the village school which is quite far from my house. “Just look… ” My father said, smiling. I brought my feet down the house and walk to the ground a quarter of it …”Ya Allaah … Bapaaakkk …” I say stuck … “Whose is it …?” I said pointing in the direction of a quarter of the land that has been filled with water .. “Got us ..” said Dad smiling … “Beautiful is not it?” He said calmly… “He ehm ..” I said, still amazed held looked toward the ground a quarter of that. “Ayuk like it?” My father asked softly … “ayuk suka bangeeeet …. ” I call on hold. With my eyes off the ground a quarter of it .. there have been two small white swans swim gracefully … “Ayuk like ..”.

So beautiful memories … so far .. still remembered although only traces of a beautiful memory .. Thank you for a wonderful surprise on Dad. .. and thank you, Dad. … Dad has been the best father and the greatest way my life (understanding always late). May Allah accept all your good deeds and keep you there. Aamiin. Thank you God, for the gift of the greatest father for me.

For My beloved Father
From Your “Spoiled” daughter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s