just my feeling · Open Mind

..rAsa SeBel iTu..

Sebel aja rasanya.. ketika tahu benda yang selama ini kita jaga kemudian kita pinjamkan hilang, rusak atau entah kemana. Akan masih terasa terobati sebelnya ketika sipeminjam berusaha mengganti atau berusaha memperbaiki atau paling tidak ada upaya meminta maaf dsbnya karena rasa tanggung jawab yang dimilikinya. Akan tetapi rasanya  amat sangat menyebalkan ketika sang peminjam tidak mau tahu, cuek dan merasa tidak bersalah.  Saat mengalami ini, rasanya hati dan mukaku tidak bisa dipakai untuk tersenyum..

Sepanjang perjalanan menuju ke kantor, rasa sebel itu masih terasa, teringat pesan guru SDku dulu, kalau meminjam sesuatu kembalikan barang dalam keadaan seperti saat meminjam atau kalau bisa dalam keadaan lebih baik, aku teringat saat itu guru memberi contoh tentang meminjam buku yang tidak bersampul, mengembalikannya lebih baik kalau disampuli.  Lantas aku berfikir lebih jauh lagi.. bukankah tubuh kita, harta kita, dan segala hal yang melekat pada diri kita dan segala hal yang saat ini mempunyai status ‘milik’ kita sesungguhnya adalah pinjaman. Dan bukankah Sang Pemberi pinjaman akan merasa senang jika yang dipinjami bisa menjaga semua ‘hal’ yang dipinjamkanNya.

Astaghfirullah.. seruku dalam hati.. sudahkah aku menjaga dan memanfaatkan ‘pinjaman-pinjamanNya’  sesuai yang dikehendakiNya?

Sesungguhnya apapun yang melekat di diri kita adalah pinjaman. Teringat tausiyah Ust Yusuf Mansur tadi pagi di ANTV. Tetang kisah nabi Ibrahim AS yang diuji Allah SWT, dengan meminta kembali yang telah dipinjamankanNya ‘Ismail’, dengan memberikan wahyu yang tergambar jelas di mimpi untuk mengorbankan Ismail- anaknya (yang untuk hadirnya Ismail saja, kesabaran Nabi Ibrahim diuji dalam tenggelam pada masa penantian  waktu yang cukup lama ).

Kualitas yang hanya dimiliki oleh manusia-manusia mulia pilihanNya, dimana Nabi Ibrahim dengan ikhlas mengembalikan Ismail pada Pemiliknya, Allah Ta’ala.  Sungguh, sebuah kisah yang mengharu biru yang dilakonkan oleh dua manusia pilihan untuk membuktikan ketaatan cintanya pada Allah Ta’ala. Ibrahim, dengan keikhlasan memberikan permata hati yang paling dicintainya ‘Ismail’ , untuk membuktikan bahwa cinta padaNya melebihi segalanya. Dan Ismail, memberikan ‘dirinya’ untuk yang dicintainya (Sungguh, cinta memang gila…🙂  )

Mulai deh refleksinya… , jari telunjuk itupun mengarah pada hidung kita masing-masing…  kita? untuk yang sederhana saja, seperti menjaga dan memanfaatkan apa yang sudah dipinjamkanNya sesuai jalan yang diridhoiNya saja terkadang kita lalai dan lupa, apalagi membuktikan bahwa kita mencintaiNya dengan pengorbanan seperti Nabi Ibrahim dan Ismail.  Aahh… rasanya masih jauuuuh.. (dan semakin merasa jauh.. ketika membayangkan ibu-ibu di gaza palestina merelakan anak-anaknya untuk berjuang demi kehormatan Islam di bumi gaza ).

Eitttss… Loh… lah ini tadi.. judulnya sebel kok jadi bicara cinta dan pengorbanan… he… he… sebelnya dah ilang.. tersalurkan lewat tulisan dan becanda-becandi ama temen-temen… Udah bisa tersenyum lagi…😀

Alhamdulillaah…

Yah.. smg khilaf dan refleksi hari ini, yang tertuang dalam tulisan nyuampur ini, bisa manfaat  bagi yang membacanya.. ^_^ dan yg pasti kalau yg disebelin ikutan mbaca.. ikut ngerasa… :D…  Have a nice friday..

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s