Hari ini, sebenarnya sudah mulai kemarin sih ban depan sepeda motorku agak kempis. Tapi pagi tadi amat sangat terasa. Ketika aku bawa ke tukang tambal ban, seorang bapak bertanya “kenapa mbak?” “pompa aja pak” jawabku.. Eeh.. si bapak malah tertawa.. dan mengatakan kalau banku bocor.

Kemudian tukanng tambal bannya datang dan mengulangi pertanyaan yang sama. Dan kali ini aku jawab, “ndak tau pak.. coba dicheck aja”. “Ini bocor mbak”.. kata bapak tambal ban. “Ya udah kalau gitu pak”. Maka dibongkarlah ban depan sepeda motorku dan ternyata ditempat untuk pengisian anginnya trouble. Maka pagi ini, ban dalam sepeda motorku yang depan mengalami penggantian, karena  tidak mungkin ditambal.

Dalam proses penantian mengganti ban, aku duduk ditempat yang disediakan, disebelah rel kereta api pas. Aku ambil buku ranah 3 warna sambil memandangi ‘View’ yang ada dihadapanku. Aku tersenyum merasakan episodeku hari ini, kalau hari biasa atau dalam keadaan biasa, tidak mungkin aku duduk dipinggir jalan dan dipinggir rel kereta api seperti ini, pikirku.  Dan tidak mungkin aku bisa menikmati suasana atmosfer pagi sambil membaca ranah 3 warna di sebelah rel kereta api dan dipinggir jalan raya pula.  Peristiwa yang langka bagiku ( meski jadi keseharian bagi bapak tukang tambal ban itu).

Seneng aja rasa hatiku saat itu, meski harus mengeluarkan uang untuk beli ban baru plus ongkos pasangnya (rezeki utk Bapak tukang tambal ban). Rasanya bersyukur banget masih diberi kesempatan oleh Allah Ta’ala, membaca buku dipinggir jalan & dipinggir rel kereta api, menikmati suasana pagi.  Hmmm… Indah.. ^_^

Iklan