Great Mom, Parent and teacher

Mengenang kalian..

Bismillahirahmaanirrahiim..

Ketika membuat tulisan ini, diriku sudah tidak  lagi seperti ember yang airnya mengalir dari beberapa lubang yang bocor disegala sisinya, ketika mengenang kalian…

Dua orang malaikatku, yang mungkin dulu lebih sering ‘ngenes’  merasakan diriku. Tapi aku yakin, bahwa tidak ada yang serba kebetulan, semua titik kecil kejadian mempunyai makna .

Dari ketiga anaknya.. anak ketiga ‘terndablegnya’  ini yang oleh Allah Ta’ala ‘diminta’ seorang diri untuk menyaksikan dua malaikatku diambil olehNya.

Terkadang cinta memang aneh, atau hanya karena budaya jawa saja yang membentuk kita untuk tidak mampu mengekspresikan rasa cinta kita. Sehingga yang keluar tidak seperti ungkapan cinta pun yang tertangkap juga bukan ungkapan cinta pula.

Beberapa kisahku yang kubagi ini, semoga bermanfaat bagi yang membaca.. bahwa terkadang sudut pandang orang tua dan sudut pandang anak-anak amat sangat jauh berbeda, yang terkadang menimbulkan kesalah pahaman dari kedua belah pihak yang sama-sama saling peduli dan menyayangi.

Kisahku:

Kisah 1:

Aku ingat benar, ketika SMA kelas 1, ada sahabat yang mengajak ke bali. Menginapnya gratis, hanya kereta apinya saja yang kami harus mengeluarkan ongkos sendiri. Sepulang sekolah, aku dan sahabatku berkumpul utk merencanakan acara keberangkatan kami ( saat itu telpon kabel masih jarang- belum banyak yg punya, belum ada handphone apalagi internet).  Cukup lama aku di rumah temanku, selepas maghrib bahkan. Mungkin karena ndak pulang-pulang (kekhawatiran seorang bapak) setelah maghrib, bapakku bisa menyusul ke rumah sahabatku tadi ( hebatnya – padahal beliau ini tidak tahu alamat rumah temanku dan aku tidak bilang ke rumah sahabatku yg mana)- dan karena dijemput, aku malu lah wong sudah besar kok dijemput segala, apalagi saat itu pembicaraannya kami belum selesai- (tapi ya pamit pulang karena sudah dijemput).  Tiba pada satu hari yang kami rencanakan untuk berangkat, paginya aku ijin ke ibuku.. dan ibuku sebenarnya tidak setuju dan mengatakan untuk ijin ke bapak. Dan, Bapak keberatan dan sama sekali tidak mengijinkan (tanpa memberitahu alasan yang jelas). Pokoknya tidak boleh kata bapak ( kesel banget aku saat itu-kenapa sih pikirku.. mumpung ada temen yg nawarin gratisan-) . Akhirnya segala macam janji dan tampang melaspun aku sebutkan ke bapak.. yang akhirnya meluluhkan beliau dan menyetujui dengan berbagai syarat. Singkat cerita.. diijinkanlah aku oleh bapak.. dan karena waktunya mepet untuk naik kereta siang, ibu sampai meminjamkan mobil dinas untuk mengantarku dan temanku.. dan.. akhirnya???  kami tidak sampai Bali.. karena ketinggalan kereta.. (hahaa..)  kembalilah aku ke rumah dengan segala baju yg sudah dipack dgn muka lusuh ( ayah dan ibu hanya tersenyum-senyum melihatku kembali).

Kisah 2:

Kejadian lain di SMA yang kuingat lekat adalah ketika ayah dan ibu melarangku naik semeru (kalau pramuka- yang kemah-kemah mereka mengijinkan malah disuruh- padahal saat itu aku menganggapnya kegiatan yg ndak terlalu keren – pake’ seragam coklat-coklat..  anak-anak yang tergabung disana juga negesin-negesin gitu.. ndak kerenlah pokoknya..).  Aku ingin sekali naik gunung, ikut klub hiking diskul dengan kakak kelasku. Untuk persiapan, aku sudah beli sepatu gunung dengan uangku sendiri karena ortu ndak bakalan mau beli hal-hal yang menurut mereka bukan yang utama, bahkan ibu menegurku karena beli sepatu yang aneh dan seperti sepatu anak laki-laki (kalau ndak salah ini udah kelas 2 SMA, terpisah kelas dgn sobat-sobatku).  Satu minggu sebelum berangkat, aku sudah ijin ke  bapak dan ibu.. dan hasilnya? mereka sama sekali tidak mengijinkanku (tanpa kompromi) alasan mereka saat itu karena musim hujan. Saat itu aku kecewa banget.. karena ingiiinn.. tp mau gmn lagi.?? (mungkin Bapak-Ibu ndak tega ngeliat anak gadis bungsunya pergi ndaki gunung). Walhasil, satu minggu itupun aku harus mendengar rayuan kakak kelas untuk tetep ikut naik gunung.. bahkan sampai berusaha menghindari pertemuan. Tapi karena satu hari terakhir perjuanganku ke ortu untuk mengijinkanku berangkat tetap tidak berhasil maka dengan wajah sedih aku sampaikan ketidak bisaanku mengikuti temen-temen naik gunung.

Kisah 3 :

Peristiwa lain yang aku ingat adalah ketika aku memutuskan untuk mengenakan jilbab. Sebenarnya sebelum mengenakan jilbab, aku sering ikut Bapak jama’ah maghrib di masjjid. Setelah sholat maghrib itu biasanya ada ceramahnya. Sering mendengarkan nasehat itu timbul keinginan untuk menutup aurat. Tapi saat itu belum kuat benar. Sampai pada suatu saat, ada teman SMAku.. yang tiba-tiba aku mendapat kabar kalau dia meninggal (kecelakaan), padahal satu hari  sebelumnya aku sempat ngobrol dan bercanda dengannya. Cukup membuatku mempertanyakan tentang kehidupan, kegamangan, berdialog cukup lama dengan diriku, baca qur’an, baca buku-buku sambil terus berdo’a ( akhirnya aku memutuskan aku memakai jilbab..). Ibu sangat tidak setuju (salahnya, saat itu aku juga tdk menceritakan pemikiranku kenapa aku ingin berjilbab). Kata Ibu, nanti aku tidak bisa berenang, tenis, nanti sulit cari kerja, dan termasuk keraguan ibu nanti aku lepas -pakai jilbab,  dsbnya. Akhirnya, karena ibu tidak setuju untuk berangkat sekolah, aku harus pinjam seragam yang tidak terpakai dari kakak kelasku yg berjilbab ( saat itu aku naik kelas 3 SMA). Untuk kali ini, Bapak tidak sependapat dengan ibu, Bapak mendukungku, karena beliau senang aku menutup aurat bahakan bagus katanya,  akhirnya ibupun menuruti kemauan Bapak. Karena tidak tega melihat aku memakai baju seragam pinjaman, maka Bapak memberiku uang untuk beli baju seragam sekolah (yang berjilbab). Reaksi teman-teman? jangan tanya.. satu kelas saat itu, hanya aku yang berjilbab.. ada yang sangat terheran-heran.. ada yang pro dan ada yang kontra.. ( but show must go on)

Kisah 4 :

Saat itu aku baru pertama kali belajar naik motor, biasanya naik motor bapak yang merah (Yamaha tahun 1975). Saat itu aku masih SMA kelas dua mungkin. Ketika ada rezeki, Bapak membeli sepeda motor honda baru. Dan Bapak mengijinkanku untuk memakainya, karena dilihatnya aku sudah bisa dan mampu mengendalikan laju sepeda motor honda. Ingat benar, ke toko primkopal yang saat itu semua bangunannya dari kaca.. dan aku? ketika turun dari sepeda motor tanpa sadar tanganku ‘menggas’.. maka melajulah sepeda motor dan diriku yg ada disampingnya memasuki toko tanpa membuka pintunya terlebih dahulu. Berjatuhanlah kaca pintu yang lumayan tebal itu dari atasku. Tapi Alhamdulillah, aku tidak luka sedikitpun. Orang-orang setoko pada kaget dan segera menolongku. Akupun berdiri dengan kaki gemetar, dan kebetulan datang seorang teman baikku.. yg berinisiatif akan mengantarku pulang.. dan sepedanya diambil nanti aja. Akupun telpon bapak ( saat itu di rumah ada telpon, karena Bapak ketua RT) dan memberitahukan kejadian itu.. harapanku aku akan dijemput. Dan apa yg terjadi? Kamu ndak papa? kalau ndak papa, naiki lagi sepeda motornya dan pulang… Hah? aq? dgn kaki gemetaran begini? akhirnya aku tolak tawaran temenku yang akan mengantarkan aku pulang tadi.. meski dia memaksa. Aku naiki sepeda motor itu kembali dengan kaki gemetar (dan temenku mengawalku dari belakang). Dan beberapa hari kemudian Bapak bilang.. Bapak menyuruh aku untuk kembali menaiki sepeda motor itu sendiri, biar aku tidak trauma dan tidak takut naik motor lagi nantinya.

Kisah 5 :

Kejadian lain yang kuingat saat kuliah, sebenarnya aku ingin sekali kuliah di mikrobiologi di IPB-Bogor atau masuk HI (Hubungan Internasional di UI-Jakarta). Tetapi ibu tidak membolehkanku untuk keluar kota, pokoknya harus tetap di surabaya. Saat itu aku kesal, karena tidak diperbolehkan memilih kota yang aku inginkan. Akhirnya tiga pilihanku UMPTN di UNAIR semua (menuruti kata ibu). Ketika diterima kuliahpun, aku ingin ngekos sebenarnya.. karena lumayan lelah.. ibu memperbolehkan.. tapi memberi aku pilihan lebih baik membelikanku sepeda motor daripada harus ngekos ( ndak tega katanya). Akhirnya, dibelikannya aku sepeda motor. Dan Bapak, membelikanku sepeda motor bukan yang kuminta atau yang kupilih. Saat itu (tahun 1994) aku meminta sepeda motor shogun aja (keluaran baru), Bapak hanya terdiam. Dan ketika pulang dari kuliah, sepeda motor Bravo sudah nangkring di depan rumah ( suprise kata bapak), bukan sepeda motor yang kuinginkan. Dan kata Bapak saat itu, sengaja Baoak belikan Bravo karena larinya ndak kenceng, kata Bapak lagi, kamu kalau dibelikan shogun, bapak khawatir.. ). Dan taukah kalian apa yang dilakukan malaikatku saat hari pertama aku naik sepeda motor ke kampus. Awal berangkat.. ayah membututiku dari belakang dengan sepeda motornya ( ya Rabb.. ) dan pulangnya Bapakku sudah menungguku di kampus dengan sepeda motornya ( mengawalku dari belakang – dan ini dilakukan selama 3 hari berturut-turut.. memastikan bahwa tidak akan terjadi apa-apa padaku.

Dan saat yang paling aku rindukan adalah saat  ibu yang seringkali tiba-tiba tidur disampingku  (ditempat tidurku yang saat itu single bed)  dan tidak membangunkanku dan hanya ingin menemaniku saja. Dan aku? masih teringat dengan jelas saat aku harus menahan air mataku agar tidak jatuh ketika mengusap lukamu.. aku mencoba bertahan untuk jadi ayuk yang tegar dengan segala kondisimu, aku tidak boleh lemah, aku tidak menangis di depanmu dan aku mematikan rasa itu agar aku bertahan dengan segala kepedihan yang engkau alami (hal yang paling menyayat hati adalah ketika kita melihat orang yang kita sayangi / cintai merasakan sakit / pedih dan kita tidak mampu melakukan apa-apa untuk mengurangi kesakitan dan kepedihannya). Tapi Allah Ta’ala menyayangimu ibu, Dia ingin segera bertemu denganmu. Dan saat ini.. untuk Bapak dan Ibu tersayang, semoga kalian bahagia disana,, hanya taburan do’a dan bersungguh-sungguh menjadi salihah.. menjadi usaha dan harapan dapat menghantarkan kalian ke surga.

Terkadang orang tuaku harus berdiskusi kecil untuk memutuskan apa yg terbaik untukku, kadang berbeda pendapat. Tapi yang jelas.. mereka memutuskan yg terbaik menurut mereka bagiku.

Teman dan sahabat-sahabatku yang membaca ini, kalau orang tua kalian masih ada, sayangi dan cintai mereka setulus hati kalian.. bahagiakan mereka, dengarkan mereka, dan yakinlah bahwa apa-apa yang mereka lalukan selama ini adalah yang terbaik untuk kalian.

Untuk teman-teman dan sahabat-sahabat yang memiliki putra/putri.. ungkapkan bahasa kasih kalian tanpa sungkan ke anak-anak kalian (atau ke orang-orang yang kalian sayangi) komunikasikan sejelas-jelasnya  mumpung masih diberi kesempatan. Saling membahagiakan – tidak saling ‘mencederai’. Dan permata-permata hati kita itu yang akan menghantarkan kita ke surga ketika mereka menjadi anak-anak yang salih dan salihah…

Selamat menjalankan puasa di sepuluh hari terakhir di Ramadhan yang indah..

Have a nice day… ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s