ways to inner beauty

Belajar tentang kehidupan dari mbak yang bantu di rumah

Seringkali, ketika kita tertimpa masalah, kita merasa seperti orang tersengsara di dunia. Tetapi ketika kita mau melihat keadaan orang-orang di sekitar kita dengan lebih seksama, maka kita akan merasa betapa beruntungnya kita.

Ini hari Ramadhanku yang ke 9. Meniti setiap detik dan hembusan nafas dalam bulan muliaNya. Seakan aku ingin lamat-lamat menapaki waktu ini, agar Ramadhan ini  tidak cepat berakhir. Ingin kupuas-puaskan Ramadhan ini untuk mencuci dosa-dosa hitam serta jelaga dalam diri yang mungkin perlu ‘sikat’ yg sangat kuat untuk mengembalikan kejernihan dan kebeningannya.

Malam 9 bulan Ramadhan. Aku sholat di rumah, karena kakakku (perempuan) masuk siang dan aku membantu menemani anak2nya yang masih krucil-krucil..🙂 Benar-benar Allah Ta’ala sungguh maha hebat, menciptakan perempuan dengan nilai rasa yang luar biasa, kelembutan dan penuh kasih sayang, sehingga tingkah pola anak-anak yg teramat ‘luar biasa’  itu bisa menjadi   bahan yang menerbitkan senyum dan menghalau gundah di hati..🙂

Sambil menjaga anak-anak yang sedang asyik bermain, aku bertanya pada mbak yang bantu di rumah ( mbak  ini masih baru, baru satu minggu 2 hari di rumahku). Cerita tentang suaminya yang baru menikahinya 5 bulan ini,, dan cerita tentang anaknya pertamanya yang sudah berusia 9 tahun. Bingung , saat pertama aku mendengar penjelasannya. Baru menikah lima bulan kok ya anaknya sudah 9 tahun dan yang satunya 3,5 tahun?? pikirku. Lantas aku tanyakan dengan hati-hati.. dan ternyataaa..  dia sudah menikah dua kali ini. Yang pertama bercerai, kemudian menikah lahi. Saat pertama kali menikah usianya masih 13 tahun dan sang pria berusia 55 tahun..Hmm.   Aku sempat terperanjat dengan informasinya, wah.. hebat  juga gumamku.. diusia semuda itu sudah berani menikah. Dan diapun bercerita bagaimana suami pertamanya menelantarkan dirinya dan anaknya. Tidak meninggalkan makanan ataupun uang untuk biaya hidup. Dan itu bertahan sampai 9 tahun ? pikirku dan sempat terlontar padanya. “Karena saya ingin kalau bisa jangan cerai mbak”  jawabnya. Tapi karena perlakuan suaminya yg semakin menjadi ( membiarkan dan menelantarkan dirinya ketika di rumah sakit) ketika dia sakit, yang akhirnya membuatnya mengambil keputusan untuk bercerai.

Tiga tahun menjanda karena sempat trauma pada laki-laki.. padahal banyak yang mendekati ( ngelaris mbaknya.. batinku smbil tersenyum),  akhirnya menikah dengan suami yang sekarang. Yang katanya lebih baik, lebih perhatian dan suka bercanda.  “Aku do’akan mbak.. langgeng, harmonis dan saling menyayangi” sahutku padanya. “Iya mbak”, saya ini orang ndak punya dapat orang ndak punya. “Hidup susah mbak, sebelum kerja disini, setiap hari saya ke ladang untuk mencari rumput buat sapi” katanya.  “Loh, sapinya berapa?” tanyaku “Sapinya 3 mbak, punya mbah”.. “Waahh.. banyak uangnya itu… punya sapi, tiga lagi..” kataku. Lantas, otak bisniskupun mulai jalan, berarti khan ada yang bisa ‘dijalankan’.  “Dijual aja sapinya, terus sebagian uangnya beli sapi lagi dan sebagian bisa ditabung atau untuk biaya sehari-hari” kataku. “Bukan punya saya mbak, punya simbah, kata embah, sapinya buat simpenan kalau dia mati”.. “Maksudnya? kl sudah mati khan ndak perlu bawa sapi” sahutku agak bercanda.. “Ya untuk bancaannya mbak.. kalau sudah mati.. “. Oalaah.. pemikiran lugu orang desa yang setia pada tradisi. Kadang miris juga, bukankah akan lebih bermanfaat jika sapi itu dijual dan dibuat modal lagi, dan akan lebih bermanfaat apabila bisa dikembangkan sebagai usaha.

Aku merefleksi kembali hadist nabi yang seringkali aku membaca dan mendengarnya, bukankah hanya ada tiga amal perbuatan yang tak akan pernah terputus pahalanya mengalir untuk kita ketika kita telah mati?

Abi Hurairah berkata, telah bersabda Rasulullah saw :

“Apabila mati seorang anak Adam , maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara : Shadaqoh zariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Semoga Allah ta’ala memberikan ilmu pada keluarga mbak yang bantu di rumahku tadi. Semoga kefakiran yang menghimpit tidak membawanya pada kekufuran.

Dan untukku, hanya berucap syukur akan nikmat Iman, serta limpahan rezeki yang Subhanallah.. hanya Allah Sang penggenggam kunci rahasia.. dan bersyukur atas semua peristiwa kehidupan yang aku jalani dan lampaui.. beserta seluruh hikmah yang menyertai dan kawan-kawan karib yang mengelilingi.

Alhamdulillaah..

wahyu r

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s