Cerkish

Terbang

by Wahyu rakhmawiyatie

“Hah! terbang? gila kamu. Apakah otakmu sudah melarikan diri dari batok kepalamu yang sempit itu? benar-benar bocah edan bin resek!”  semprot temenku dengan mengikut sertakan butiran-butiran enzim yang bersemayam di mulutnya  ketika berkata setelah  mendengarkan ideku. “Tapi itu mungkin, kring”  sahutku dengan tetap santai tanpa melihat kewajahnya yang dijorokkan ke arahku seperti akan menampar pipiku dengan mulutnya, yang kalau diukur dengan penggaris mungkin berjarak sekitar lima sentimeter . Aku tetap duduk santai sambil terus sibuk mendengarkan pijar-pijar gila yang bekerja di otakku. “Ndak mungkin orang itu bisa terbang iteemmm, kecuali pake’ pesawat terbang atau balon udara atau paralayang atau parasut.. atau apalah namanya. Udaaaah.. kamu berhenti mengkhayalnya..  sana.. urusin aja tubuh kamu yang semakin lama semakin dekil plus item dan cuci bersilah otakmu itu yang semakin lama- semakin ndak tahu juntrungnya mau kemanaaa” teriak Cungkring masygul sambil berlalu berjalan meninggalkanku setelah mulutnya yang hampir menyentuh daun telingaku meninggalkan butiran-butiran air tipis yang mendarat dengan empuk di leherku.Dan aku? kurasakan telingaku berdenging dengan teriakan kerasnya.. gendangku seakan protes dengan suara cempreng yang tiba-tiba dengan kekuatan penuh yang mencoba-coba kemampuannya dalam menerima desibel suara tinggi yang tidak terduga.  Teriakkannya tetap tidak membuatku menoleh sedikitpun atau beranjak pergi menjauhinya, aku tetap disibukkan dengan piran-pijaran di kepalaku.

“Huh.. dasar Item gila, sudah parah benar rupanya kadar kegilaannya.. lama-lama aku juga ikut gila dibuatnya” gerutu Cungkring yang masih terdengar keras yang lebih mirip pengumuman ke orang-orang sekampung tetang kegilaanku (menurutnya), dengan meneruskan langkah kakinya tanpa menoleh kembali ke arahku sekalipun.

Cungkring, sahabat setiaku semenjak SD. Badannya kurus tinggi, kulit putih dan mata sipitnya semakin menambah eksotis wajahnya. Orangnya baik bukan maen meski kadang sering sebal dan bersungut-sungut ketika menghadapi aku yang sedikit cuek dan banyak ide-ide brilian ini (menurutku aku brilian.. Hahaaa.. – penyakit sedeng no 5 ,menganggap diri brilian ketika orang lain menganggap gila). Nama sebenarnya Raden Mas Aryo Trenggana. Sempat terfikir aneh juga, gelarnya Raden Mas tapi teriakannya bisa ngalah-ngalahin para pendagang di pasar loak yang menawarkan dagangannya.

Sedangkan aku? Tidak terlalu kurus dan tidak terlalu tinggi- sedang aja-  yang jelas kalau jadi peragawan ndak bakalan laku bajunya dan kalau disuruh jadi penjaga toilet terlalu keren tampang yang kupunya (Ini penyakit sedeng no 1 tetep PD meski orang sekampung mencela ). Kulitku sebenarnya tidak hitam banget, aku sendiri heran kenapa semua orang suka memanggilku item, kulitku sebenarnya tidak item, hanya saja seperti buah sawo yang  baru saja berjemur mulai dari jam tujuh pagi sampai jam empat sore dan ketika mulai berjemur lupa pake’ lotion anti sinar mataharinya. Benar khan? aku sebenarnya tidak item, orang-orang saja yang terlalu berlebihan saja dalam menilai dan memuja warna kulitku. Aku ini tidak item, hanya coklat sawo kematangan aja.

Dua bersaudara, aku yang kedua dan yang terakhir , rupa-rupanya  ayah dan ibuku sangat taat dengan anjuran pemerintah indonesia tentang dua anak cukup – coba ngikut anjuran pemerintah singapura – anak yang ketiga dan seterusnya malah mendapat tunjangan bahkan hadiah.. ( sebenarnya tinggal dimana seh aku nih? Indonesia.. ) . Kakakku perempuan, dan jangan ditanya tentang kemampuannya mengeluarkan kata-kata dalam hitungan detik dari mulutnya. Seperti senapan mesin paling canggih yang mampu mengeluarkan peluru sepersekian detik. Meski begitu, kakakku teramat sangat sayang pada adeknya yang semata wayang ini. Sering  diomelin, dan dimarahin menjadi satu tanda cinta yang sangat membahagiakan hatiku, dan tentu saja hadiah-hadiah yang tidak terduga kalau pulang dari luar daerah.

Oh ya lupa, perkenalkan namaku Hanafi, Muhammad Hanafi.. temen-temen sering memanggilku  kanapi, Kanopi, Item, Api, Han, Hanaf , Anap, Aap, dan yang pali tidak aku suka sebutan Napi tapi ya banyak juga yang memanggil dengan sebutan Hanafi.. dan orang tuaku biasa memanggilku dengan Adek atau Aap.

Tidak selalu mendapat nilai bagus untuk rapotku, cenderung malas mendengarkan penjelasan guru yang membosankan dan bertele-tele. Lebih suka pada guru yang membuat suasana kelas menjadi ajang riset atau ekspresi ide-ide brilian yang ada di otak anak-anak muda seperti kami ini. ( bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s