Open Mind

Dalam kesederhanaan ada kebahagiaan… Bahkan mungkin kesederhanaan itu membahagiakan.

by wahyu rakhmawiyatie


Judul diatas mewakili perasaanku yang merasa senang dan damai aja saat  melaksanakan sholat di masjid sederhana yang digunakan sementara, karena masjid utama sedang dibongkar untuk diperluas.

Sejak tanggal 21 Mei 2011, semua aktvitas masjid berpindah ke masjid sederhana. Masjid yang terbuat dari bambu (sesek-jawa-) dengan tiang-tiang pancang diberi kipas angin, amat sangat sederhana… ndak tau.. rasanya aku senang dan damai aja untuk sholat disitu.

Dan hari ini ( 23 Mei 2011), aku merenung sebentar setelah sholat ashar, mengartikan kebahagiaan…  “memang sebenarnya kebahagiaan tidak perlu kemewahan, gumamku dalam hati”

Kebahagiaan berkorelasi positif dengan ketenangan dan kedamaian hati. Ketika kita senang dan mensyukuri apa yang ada, maka kebahagiaan dapat diperoleh… hmmm…

Dalam lanjutan berfikirku.., sedikit menabrakkan nilai, ‘berarti tidak perlu kerja keras dan ikhtiar kalau sederhana saja sudah cukup? Tidak perlu yang bagus-bagus dan muluk-muluk?’ (huaahhh.. jadi dalem ini bahasannya..)

‘Lantas.. bagaimana dengan kerja keras dan kepayahan? Apakah bisa menjadi sesuatu yang membahagiakan?’ (more.. and more.. diving..  :D)

Setelah berdialog dengan diri, dendrit-dendrit otakku merespon begini: ‘menurutku  kerja keras, ikhtiar dan kepayahan, teramat sangat bisa membahagiakan (loh.. kok bisa??) dengan syarat: kita bisa ‘memaknai’ aktivitas yang dilakukan (ndak setuju boleh loh yaaahhh.. ). According to me.. , dalam segala ikhtiar untuk sesuatu yang pantas diperjuangkan adalah sesuatu yang sangat membahagiakan (apakah itu dalam konteks membutuhkan kepayahan atau ringan-ringan saja dalam peluh seduh perjuangan.. ^_^ ).  Meski dari sisi kasat mata orang lain menilainya berat, payah, letih, dsbnya. Tapi toh yang merasakan dan yang menjalaninya khan diri kita sendiri.  Yang tahu pasti apakah sesuatu itu membahagiakan dan menetramkan hati ya kita sendiri. Ketika yang menjalaninya merasa bahagia, tidak ada orang lain yang bisa meyakinkan bahwa apa yg dilakukannya tidak membahagiakan.

Berbicara bahagia, menurut saya (lagi.. he.. he.. jadi sekali lagi boleh setuju boleh ndak nih.. ^_^ ) bahagia itu tolak ukurnya kejujuran di hati kita. Di hati kita masing-masing, bukan standar masyarakat  atau orang awam. Bukan senyam-senyum (palsu) di depan orang lain  atau kata-kata manis bahagia. Bahagia (sekali lagi) yang merasakan hati kita.

Biasanya, saya mencoba untuk dialog  dengan jujur dengan hati saya (bahasa psikologi kerennya.. self talk-).  Praktisnya begini, ketika kita dalam satu situasi tertentu.. tanyakan pada diri kita, apakah kita bahagia?.  Menurut saya (lagi) perasaan bahagia tidak berkorelasi positif memperturutkan hawa nafsu. Karena, menurut saya (lagi..😀 ) bahagia berkorelasi dengan ketenangan dan kedamaian. Sedangkan memperturutkan hawa nafsu berujung pada kekecewaan dan kehancuran.  

Mungkin contoh konkritnya : kita orang Islam menjalankan puasa yang berlapar-lapar dan berhaus-haus ria atau menjalankan sholat yang sehari semalam lima waktu, mungkin orang awam melihatnya amat sangat memayahkan dan berat.. tapi justru kita yang menjalaninya dengan makna dan penuh keikhlasan dapat merasakan kebahagiaan-ketenangan dan kedamaian… ( bener ndak sodara-sodara..? ini menurut saya (lagi)  ^_^ )

Kembali lagi ke topik kesederhanaan, makan ditempat mewah belum tentu lebih membahagiakan dibandingkan makan di tempat yang sederhana. Kenapa? Karena sekali lagi (menurut saya.. he.. he.. he..  ^_^ boseeeeennnn.. kt yg baca..) kebahagiaan itu ada di dalam diri kita bukan ditempat yang mewah, bukan dimakanan yang mahal, pun bukan di hal-hal glamour lainnya. Kebahagiaan itu adanya di hati.  Makan bersama dengan teman-teman atau keluarga sambil bercengkerama teramat sangat membahagiakan.. meski dari sisi  lauk dan pelengkapnya teramat sangat sederhana.

Yupsss.. kebahagiaan itu bisa jadi ada di dalam kesederhanaan… dan menurut saya  kesederhanaan itu membahagiakan.  So.. Be happy and Have a nice day… ^_^

One thought on “Dalam kesederhanaan ada kebahagiaan… Bahkan mungkin kesederhanaan itu membahagiakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s