Great Mom, Parent and teacher

Cerdas Spiritual di Raudlatul Jannah.

by wahyu rakhmawiyatie

13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Surat Luqman : 13)

“Anak-anak.. semoga kalian menjadi anak yang solih dan solihah, anak-anak yang berbakti kepada orang tua kalian dan tidak menjadi anak yang durhaka kepada orang tua” ucap seorang guru ketika mengakhiri cerita tentang Al qomah ( kisah seorang anak yang akan dibakar karena saat sakaratul maut, ajal tidak juga datang dan hanya ridho ibu yang membebaskannya dari siksaan sakaratul maut yang berkepanjangan). Ketika guru selesai berbicara ( berdo’a) anak-anak dengan spontan mengamininya dengan nada amin yang sungguh-sungguh.

Saya sangat terharu sekali, melihat anak dengan usia semuda itu (kelas 2 SD ) sudah mampu menginternalisasi do’a yang dipanjatkan gurunya.
Prolog di atas mengawali tulisan saya mengenai cerdas spiritual di anak-anak kita.

Ketika kita melihat anak-anak dapat bersyukur dengan tulus ketika ada do’a yang dipanjatkan untuk mereka, apa yang kita rasakan ?

Ketika kita melihat dan mendengar anak-anak kita memanjatkan do’a sepenuh hati untuk kita, apa yang kita rasakan?

Ketika anak-anak menyikapi segala kejadian dan peristiwa yang ada disekitarnya dengan disandarkan pada Allah Ta’ala, apa yang kita rasakan ?

Tentu saja yang hadir adalah perasaan bahagia dan terharu, membuncah di dalam dada bahkan mungkin ketika kita benar-benar dalam situasi tersebut, tetes air mata keharuan tidak terasa mengalir membasahi sudut-sudut mata kita.
Sungguh, betapa bahagianya kita ketika anak-anak kita mengenal Tuhannya.

Menjadikan anak cerdas spiritual, bukanlah pekerjaan yang mudah bagi kita orang tuanya pun juga bukan pekerjaan yang tidak mungkin untuk dilakukan. Meski dari sisi perkembangan usia, anak-anak usia preschool atau sekolah dasar masih pada tahap preoperational dan concrete operational dalam perkembangan kognitifnya. Tapi keterbatasan tersebut tidak menghalangi kemampuan anak – anak untuk mengenal Tuhannya, karena sebenarnya spiritualitas merupakan komponen penting yang ikut terimplementasi ketika anak di lahirkan di dunia ini.

Mari kita simak dibawah ini , ayat Al Qur’an mengenai kesaksian manusia atas Tuhannya sebelum dilahirkan.

Al Qur’an Surat Al- A’raf : 172

172. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Dan penelitian ilmu pengetahuan modern menunjukkan, bahwa ada tiga area di otak manusia yang memegang spiritualitas
Scientists searching for a ‘God spot’ in the brain have found three areas that control religious belief.

A study of 40 participants, including Christians, Muslims, Jews and Buddhists, showed the same areas lit up when they were asked to ponder religious and moral problems.
MRI scans revealed the regions that were activated are those used every day to interpret the feelings and intentions of other people.

God on the mind: Areas of the brain involved in religious belief
‘That suggests that religion is not a special case of a belief system, but evolved along with other belief and social cognitive abilities,’ said Jordan Grafman, a cognitive neuroscientist at the National Institute of Neurological Disorders and Stroke in Bethesda, Maryland. (http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-1160904/Research-brains-God-spot-reveals-areas-brain-involved-religious-belief.html )

Cerdas spiritual, mungkin tidak ada nilai angka dalam kemampuan ini. Bukan karena tidak dapat dinilai karena penilaian angka menurunkan nilai spiritualitas itu sendiri. Cerdas spiritual lebih pada sikap dan kemampuan seseorang merespon dalam segala kejadian dengan menggunakan sudut pandang spiritual.

Karena sesungguhnya spiritualitas bersifat fitrah, dan fitrah sendiri berasal dari akar kata fathara dalam bahasa Arab ia mengandung makna: al-khilqah yang berarti naluri pembawaan, ath-Thabi’ah yang berarti tabiat atau karakter yang diciptakan Allah swt pada manusia, dan membuka (SELASA, 07 SEPTEMBER 2010 05:38 MULYANA, LC. REFERENSI – ENSIKLOPEDI )

Raudlatul Jannah sendiri menggunakan sistem pendidikan yang sesuai fitrah anak-anak ( psikologi anak, kognitif anak, afeksi anak bahkan spiritualitas anak- dan dalam tulisan kali ini kita fokuskan pada pengembangan potensi spiritualitas).

Sistem pendidikan Visi semesta di Raudlatul Jannah menempatkan spiritual paradigm sebagai core of education. Dimana seluruh paradigma belajar diarahkan pada sebuah kesadaran bahwa segala aktivitas pembelajar, baik yang bersifat horizontal ( hubungan kemanusiaan) maupun yang bersifat vertical (hubungan keilahian), merupakan upaya untuk menjalankan tugas mulia sebagai makhluk penebar kebaikkan dan kearifan di bumi dalam kerangka rahmatan lil ‘alamin (memberikan keberkahan bagi alam semesta). Paradigma spiritual diletakkan sebagai pusat atau inti dari sistem pendidikan, dimaksudkan sebagai ruh / nafas dari pendidikan itu sendiri. Ada lima dimensi spiritualitas yang di terapkan: 1. Believe (kemantapan aqidah), 2. Feeling ( Akhlaqul karimah), 3. Practice ( ketrampilan beribadah ritual), 4.Effect (Budaya hidup positif) dan 5. knowledge (pengetahuan/ dogma keagamaan)
Maka, paradigma spiritual melingkupi dalam semua pembelajaran ( semua aktivitas ). Mulai dari masuk kelas, memulai pelajaran, dalam pelajaran- mengakitkan materi ajar dengan apa yang ada dalam Al Qu’an atau hadist, bertemu dengan guru, bersosialisasi dengan orang lain, makan, minum, ibadah, dlll. Semua aktivitas anak dilingkupi dalam kerangka spiritualitas.

Harapan dan usahanya adalah bahwa hal tersebut diatas dapat terintegrasi dengan segala aktivitas di rumah. Sehingga terjadi sinergi yang kuat antara sekolah dan rumah untuk membangun spiritualitas anak-anak.

Penerapan paradigma spiritual inilah yang diharapkan dapat membentuk karakter anak menjadi karakter yang bertaqwa dan menjadi sosok spiritual human being. Manusia yang utuh (antara ucapan-sikap sama, berprinsip, pribadi yang jelas/ tidak terpecah), cerdas secara intelektual dan cerdas secara spiritual, menjadi manusia-manusia yang berprinsip dalam menjalankan amanahnya di muka bumi ini (rahmatan lil ‘alamiin).
Sungguh, alangkah bahagianya orang tua dan guru-guru yang anaknya dan anak didiknya menjadi manusia-manusia yang rahmatan lil ‘alamiin (memberikan keberkahan bagi alam semesta).

Mari bersama-sama, mewujudkan sinergi yang kuat sehingga harapan kita, bahwa anak-anak kita menjadi anak yang solih dan solihah yang memberikan keberkahan bagi alam semesta dapat terwujud. Tetap semangat! Mewujudkan generasi cerdas berakhlaq mulia. Generasi penerus bangsa. (wahyu R)

Referensi :

Al Qur’anul Karim

http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-1160904/Research-brains-God-spot-reveals-areas-brain-involved-religious-belief.html )

http://www.nuansaislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=534:fitrah&catid=96:ensiklopedi-islam&Itemid=347

Visi semesta Guided book ; Visi Semesta publishing : 2010

Panduan perguruan Islam Raudlatul Jannah, PI Raudlatul Jannah : 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s