Great Wife, Mom, Parent and teacher

Menghapus goresan “luka” pada buah hati tercinta

by wahyu rakhmawiyatie

Tulisan ini tergoreskan, didasari keperdulian dan kasih sayang yang tulus padamu para orang tua dan guru sebagai ‘Penyentuh’ generasi bangsa. Refleksi setelah menangani beberapa kasus anak-anak yang memerlukan bimbingan,  menyumbangkan ide untuk pengembangan generasi ke depan.

Akar permasalahan yang sebenarnya sangat mudah untuk diatasi, tetapi jika tidak diselesaikan akan menjadi hambatan yang cukup berpengaruh secara signifikan terhadap emosi, perilaku dan kepribadian anak.

Menghapus goresan “luka” pada buah hati tercinta ternyata (sejauh hasil obeservasi aplikasinya) menjadi solusi yang tepat untuk beberapa permasalahan emosi, perilaku dan kepribadian anak. Apa dan bagaimana? Tulisan selanjutnya akan menjadi jawabannya.

Saya awali dengan data dan fakta yang ada (yang mungkin para orang tua dan guru sudah mengetahuinya)

Pertama, bahwa setiap perlakuan yang terjadi di masa kecil (sekecil apapun) akan terekam di alam bawah sadar dan akan dibawa sampai dewasa.

Kedua, bahwa otak anak-anak berbeda dengan otak orang dewasa. Otak anak-anak menerima-merekam-merespon (tidak ada filter benar salah, semua yang dilihat dan dirasakan adalah kebenaran sampai ada pemberitahuan).

Ketiga, setiap perlakuan, pola asuh, stimulasi yang diberikan pada masa kanak-kanak, sekecil apapun itu, akan sangat berpengaruh pada karakter, kepribadian dan cara merespon ketika dewasa.

Semua hal kecil tersebut tersimpan dalam otak bawah sadar yang mempunyai porsi 80% dalam diri kita. Ketika yang tersimpan dalam otak bawah sadar adalah hal-hal yang positif, maka karakter, kepribadian dan respon anak akan positif. Dan begitupun sebaliknya ketika yang tersimpan dalam otak bawah sadar adalah hal-hal negatif, maka yang tersimpan adalah hal-hal yang negatif.
Lantas bagaimana anak bisa “luka” dan bagaimana mengatasi goresan “luka” tersebut?. Penjelasan berikutnya menjadi jawabanya.

Anak bisa “terluka” jika respon kita tidak sesuai dengan harapan anak dan kita menanggapi respon tersebut dengan negatif (konotasi negatif disini bisa jadi kasar, menyakiti secara fisik atau verbal, keras-bentakkan/suara-, tanpa ampun, dll). Hal-hal tersebut bisa melukai anak-anak kita. Misal : anak main setelah pulang sekolah sehingga sampai rumah terlambat, dan sengaja atau tidak sengaja kita memberikan hukuman yang negatif seperti memukuli anak sampai kesakitan, mencubit, membentak dengan keras, kata-kata pedas yang menyakitkan, menjambak rambutnya, dll.

Bisa jadi hal-hal tsb bisa ‘melukai anak’ kalau fisik mungkin bisa segera sembuh tetapi tidak untuk jiwanya, sampai kita menghapusnya. Karena ketika anak yang tergores jiwanya, sebelum kita menghapus luka atau goresan itu, maka segala kebaikkan yang kita berikan tidak akan pernah ditangkap sebagai kebaikkan oleh anak-anak kita. Dan yang perlu kita ingat, otak anak-anak bersifat sangat plastis artinya menyerap segala informasi, saya ulangi menyerap segala informasi dan segala sesuatu yang tertanam bersifat emosional akan tertanam lama (teringat sepanjang masa, tertanam diotak bawah sadar mereka).

Lantas apa yang harus kita lakukan, untuk menghapus luka atau goresan itu?
(Penjelasan saya kali ini, lebih pada berbagi dan menyumbangkan ide untuk pengembangan anak-anak kita secara optimal. Bisa jadi apa yang saya tuliskan pernah dialami atau sudah dilakukan oleh kita sebagai orang tua atau guru. )

Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan :

Pertama, sadari bahwa kita telah membuat anak-anak kita ‘terluka’ / ‘tergores’.

Kedua, ketika kita sudah dapat menguasai emosi kita, dan emosi anak juga mereda (cooling down), ajak anak bicara (dialog). Dialog bukan nasehat. Dialog, ada proses komunikasi dua arah, tanyakan alasan anak melakukan hal yang tidak kita sukai. Selanjutnya kita meminta maaf.

Ketiga, Jelaskan dengan tulus tetapi tegas tanpa nada menyalahkan anak tetapi lebih menunjuk pada hal-hal/sikap yang kita tidak suka (pada sikap/perilaku/kata-kata anak-anak yang kita tidak suka atau marah kita katakan dengan jelas dan tegas (tanpa emosi marah) kalau ayah/ibu tidak suka atau ayah/ibu marah kalau anak-anak begini atau begitu). Langkah ketiga ini dilakukan ketika emosi orang tua/guru dan anak sama-sama sudah cooling down, jangan pernah melakukan langkah kedua ini sebelum emosi keduanya reda

Keempat, langkah terakhir untuk menghapus luka adalah bahasa kasih yang tulus. Kata-kata bahawa ayah/ibu menyayangi ananda, atau pelukan hangat dan rangkulan penuh kasih. Maka ananda akan merasakan cinta dari kedua orang tuanya.

Tips : 1. Jangan pernah mengabaikan atau menganggap remeh ‘luka’ anak-anak kita. Karena luka ini tetap terbawa sampai dewasa dan tidak akan pernah hilang jika kita tidak berusaha menghapusnya. Dan ketika anak-anak membawa ‘luka’, maka segala hal yang menurut kita kebaikkan tidak akan pernah tertangkap sebagai kebaikkan oleh anak-anak kita.
2. Hargai dan sentuh jiwa anak-anak kita dengan kata-kata yang lembut dan penuh kasih sayang, karena sesungguhnya jiwa-jiwa anak-anak kita adalah jiwa-jiwa yang fitrah dan penuh kelembutan (Rasulullah telah mencontohkannya bagaimana bersikap pada anak-anak).
3. Orang tua/guru perlu memiliki daftar dan standar yang jelas mengenai sikap/perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak (sehingga anak tidak bingung dan menjadi peragu)
Setiap manusia yang lahir ke dunia mempunyai misi yang telah ditentukan. Setiap manusia lahir ke dunia telah diberi potensi perangkat sesuai dengan misi yang diembannya. Tidak ada yang sia-sia dan serba kebetulan di dunia ini. Kita tidak pernah tahu skenario Allah Ta’ala, yang bisa kita perjuangkan adalah kesungguhan kita dalam mengisi kehidupan ini dengan jalan yang diridhoinya.
In every child who is born, under no matter what circumstances, and no matter what parents, the potentiality of the human race is born again.-James Agee-
Selamat menjadi pendamping terindah tumbuh kembang putra-putri kita. Karena bagi ananda.. ayah dan ibu mereka adalah sosok yang paling diharapkan untuk memuji, menyayangi dan mencintai mereka. Tetap semangat untuk berjuang, titipan-titipan indah dari sang Pencipta, merekalah generasi penerus Islam dan bangsa. Investasi akhirat yang tak ternilai harganya.

 

Catatan : tulisan ini juga diterbitkan di majalah Raudlatul Jannah edisi april 2011. Setelah tulisan ini terbit, beberapa anak SD kelas 5 kelas 6 datang menemui saya dan ‘curhat’  sambil berlinang air mata dan mengatakan bahwa apa yang saya tulis sama persis yang sedang dialaminya.. dan setelah dialog panjang dan mau mengungkapkan dengan santun kepediha-kepedihannya selama ini,  Alhamdulillaah, sekarang hubungannya dengan orang tuanya sudah sangat baik.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s