Cari

write it – right it

wahyu rakhmawiyatie

Dalam hening (menjelang Ramadhan ke 9)

Dalam hening (menjelang Ramadhan ke 9)

Rasanya saya mual-mual.. disamping efek masuk angin beberapa hari ini ditambah efek  membaca, mendengar dan melihat berita tentang siapa yang  harus  “Hormat-menghormati” dalam  bulan Ramadhan.

Ini benar terjadi? Di tahun 2016? Apa tidak ada isu lain yang lebih nge”hits” yang perlu  kita diskusikan dan perdebatkan di era sekarang?. Garuk-garuk jidat yang tidak gatal,  heran sekaligus geli bin sedih dan prihatin tentang hal-hal yang menjadi fokus bangsa ini.  Ingin rasanya saya ikut berkata menggunakan logika cupet  saya, berkata dengan seribu amunisi saya, masuk dalam kancah polemik sambalado yang pedasnya tak berujung ini.  Tapi saya ingat pesan manusia mulia Rasulullah SAW untuk mengatakan  “Maaf saya sedang puasa”  dan berlalu meninggalkan perdebatan yang tak perlu diperdebatkan.

الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَلاَ يَرْفثْ وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائمٌ، مَرَّتَيْنِ

“Puasa adalah tameng. Maka janganlah dia berkata kotor (porno -pen) atau melakukan tindakan bodoh. Jika ada orang yang mengajaknya untuk berkelahi atau menghinanya maka hendaklah dia mengatakan, ‘Saya sedang puasa’ sebanyak 2 kali”[1]. HR. Bukhori no. 1894, Muslim no. 1151.

Islam adalah agama rahmatan lil “alamiin. Kasih sayang untuk semua makhluk yang ada dimuka bumi, dan seandainya ketika memegang teguh agama ini seperti memegang bara api,  lagi-lagi saya teringat manusia sempurna yang saya sendiri belum pernah melihat sosoknya kecuali dalam mimpi,  saya teringat sabda manusia agung itu.   Seperti menggenggam bara api, dan apabila kita  genggam bara api itu dengan tangan kita , maka akan terasa panas membakar diri kita dan apabila dilepas maka kita akan kehilangan satu-satunya permata indah dalam hidup kita.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Dijelaskan dalam Tuhfatul Ahwadzi bahwa di zaman tersebut, orang yang berpegang teguh dengan agama hingga meninggalkan dunianya, ujian dan kesabarannya begitu berat. Ibaratnya seperti seseorang yang memegang bara (nyala) api.
Maka, jangan pernah heran kalau kita ini mengaku muslim dan kita dihadapkan dengan keadaan yang serba  ndak jelas, molak –malik logika dan super semrawut ini.  Pada sudut belahan  bumi bagian mana ketika Islam tidak disudutkan?

Dibelahan bumi bagian mana Seorang muslim yang baik dan yang  memegang teguh agamanya  tidak tersakiti ?  bahkan di belahan bumi yang katanya tanah kebebasan atau bahkan dibelahan bumi yang dikatakan   Islam itu menjadi agama mayoritas, maka akan engkau temui orang-orang muslim yang tersakiti secara diam-diam atau terang-terangan.   Ya benar, disini dibelahan bumi yang agamanya Mayoritas ini ?  ya mayoritas.. meski ke”mayoritasan” itu laksana buih di lautan.

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745)

 

Mau kita jawab dengan argumen apapun… mereka yang  memastikan dirinya berada bersebarangan dengan orang-orang muslim, memiliki argumen yang tak  kalah hebatnya. Tidak sedang menggurui, tapi lebih mengajak bijak di bulan yang penuh rahmah dan berkah ini. Ayo kita melihat diri kita saja, biar saja mereka yang disebrang sana mau berbuat apa semaunya terserah… tapi kita tidak akan bergeming untuk tetap menjadikan diri kita muslim yang kaffah? Muslim yang benar-benar teguh ajaran agama Islam meski terasa seperti memegang bara api, tetapi kita tetap berusaha mempertahankannya. Menjadi muslim yang rahmatan lil “alamiin, dimana keberadaan diri diri kita menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Bukan berarti yang perlu disikusikan dan diperdebatkan tersebut hal yang tidak penting, tetapi Lebih penting kita melihat diri kita, keberadaan kita,   Apakah totalitas kita sebagai muslim sudah dirasakan oleh lingkungan keluarga kita, masyarakat sekitar kita dan tempat kerja kita?. Daripada kita menghabiskan energi yang hanya tinggal setengah ini untuk berdebat kusir tentang  “Hormat menghormati” yang  tak jelas. Lebih baik kita balik kanan fokus kembali untuk membentuk komunitas muslim yang totalitas, menjadi Muslim Terbaik , menjadi Muslim yang dapat menjadi rahmatan lil ‘alamiin, seorang muslim yang tidak melihat seorang manusia berdasarkan rasnya, agamanya atau golongannya dalam memberikan kasihnya antar sesama manusia, tidak membedakan dalam memberi pertolongan dan bantuan.   Dan apabila… sekali lagi apabila dengan “keheningan” kita,   mereka yang diseberang sana  masih terus memojokkan? Tak apa… terpojokkan bukan berarti kita lemah dan kalah… Jangan pernah takut, ada saatnya hal-hal yang memang perlu kita polemikkan, karena selama kita berpegang pada tali Allah, maka Allah akan menolong kita.

Nah, sembari dalam keadaan “hening” ,  lebih kita kembali fokus berusaha terus memperbaiki diri menjadi muslim yang kaffah,  saling mendoakan kebaikkan-kebaikkan untuk saudara-saudara kita. Ini Ramadhan Kawan.. 🙂  (Wahyu R)/ waru110616 

 

Daftar sumber:

https://rumaysho.com/10479-mereka-yang-memegang-bara-api.html

https://alhijroh.com/adab-akhlak/maaf-saya-sedang-puasa/

http://www.eramuslim.com/suara-langit/kehidupan-sejati/penyakit-ummat-islam-di-akhir-zaman-1.htm#.V16neOJ97IUP1040510

Lamaaa bangeettss

Lama Banget tidak menulis di blog ini. Terakhir nulis november tahun 2013. Wow , hampir 2 tahun.. ^^. Wah.. wah… InsyaAllah mau aktif nulis lagi , berbagi pengalaman.. semoga manfaat buat yang baca. See You soon….

JIWA-JIWA YANG INGIN DITEMUKANGadis kecil di sudut jalan

Chapter One

PERTEMUAN

Lusuh.. dengan wajah kumalnya, nampak seperti sedang menahan perih. Kudekati gadis kecil di sudut jalan itu. Beringsut takut, ingin berlari tetapi tubuhnya seakan tak mau dan tembok-tembok dibelakangnya menghlanginya untuk lari. Siapa namamu? Sapaku lembut sambil menjulurkan tanganku ke arahnya. “Hrrgghh..’ hanya geraman dan seringai dari wajah lusuh kumal di depanku. Aku menarik tubuhku yang tadi aku condongkan. “Ada apa ? saya tidak bermaksud jahat kepadamu” tanyaku sambil menatap wajahnya yang hampir semuanya tertutup debu tebal jalanan. Siapa namamu? “Hrghhh…” dan dengan sempoyongan dia angkat tubuhnya dengan susah payah berlari menjauhiku. “Haii… ahh….” teriakku memanggilnya.. sia-sia.. akupun beranjak dari tempatku, kembali meneruskan perjalanan, ku ambil laptop dan buku yang sempat terjatuh ketika aku memanggil gadis kecil itu. Laptop dan buku, dua benda yang setia  menemaniku sejak aku sampai di kota ini. Kota ini indah, tetapi tidak seindah yang sering di bicarakan orang. Kurapikan jilbabku yang berkibar-kibar terkena angin pagi itu. Hmmm.. , gumamku dalam hati.

Masih penasaran dengan gadis kecil itu. Ada sesuatu yang membuatku tertarik padanya. Insting mahasiswa psikologi S2 semester akhir atau hanya kebanyakan membaca cerita detektif yang membuatku ingin tahu apa yang terjadi pada gadis kecil itu? Ahh.. mungkin keduanya. “Assalamualaikum Rana.. ” suara khas yang sudah aku tahu itu memanggilku.. tanpa menoleh  kujawab pemilik suara itu “Waalaikumsalam, Rangga.. gimana kabarnya? “ sahutku mendongak sejenak dan kembali menekuri buku yang ada di tanganku. “Ranaaa… kamu tuh jahat ya.. masak sekilas saja melihat ke arahku” protes Rangga.. sahabatku sejak kecil yang sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. “Hmm.. “ aku tetap tak bergeming dari posisiku semula.. “Ranaaa….” teriak Rangga kuat di telingaku “Husshh… husshh… ndak usah keras-keras teriaknya… lihat tuh… burung merpatinya pada terbang semua… “ seruku mau tidak mau menoleh kepadanya “Huh.. biarin.. habis dipanggil pelan2… akunya di cuekin” “Hei… ndak boleh egois gitu.. masak mengorbankan keasyikkan burung-burung merpati itu hanya karena dirimu” sahutku santai sambil menahan geli melihat bibirnya yang manyun. Rangga-rangga…my best friend, apalah jadinya diriku tanpamu.. gumamku dalam hati. “Baiklah… ada apa Rangga?” Tanyaku dengan tetap tidak memandangnya. “Rana… lihat wajah Rangga.. “ sahut Rangga “Heii… ndak boleh lah… gimana-gimana bukan muhrim”. “Ayolah Rana… coba lihat ada yang berbeda tidak dariku?” nada suaranya yang memelas membuatku tidak tega untuk tidak menoleh kepadanya, tetapi sebelum penuh wajahku melihat dirinya.. kutangkap sosok kecil itu berlari melintasi jalan dan kembali ke sudut yang sesaat tadi kutemukan dirinya. “Eh Rangga… sebentar ya… nitip netbookku.. jangan kemana-mana.. ” Rangga melongo kebingungan sambil melihat diriku yang berlari-lari kecil menuju tempat gadis kecil itu. Rangga bisa menunggu pikirku. “Hai… “ sapaku pada gadis kecil yang terlihat lebih lusuh dari pertama kulihat tadi. “Hrghh… “ desis yang sama seperti yang tadi kuterima. “Ndak… ndak papa.. saya tidak akan menyakitimu, saya hanya ingin membantumu” sahutku menenangkannya. “Eh.. ini.. “ aku hulurkan sepotong roti yang sempat ku sambar dari atas meja cafe tadi ke arahnya “Ayo.. ini.. ndak papa… ambilah”. Dengan takut-takut gadis kecil itu menghulurkan tangannya. “Tidak papa.. ambilah” kataku meyakinkan tangan kecil yang ragu-ragu itu. Mata garangnya mulai melunak.. meski sudut bibirnya tidak menunjukkan senyum walau guratan kecil saja.. tetapi tidak mengapa aku sedikit lega, setidaknya dia mau menerima uluran pertemananku melalui sepotong roti . “Siapa namamu? “ tanyaku . Matanya yang bersinar jernih diantara tubuh lusuhnya itu mengerjap-ngerjap basah… Hei.. dia menangis. Seruku dalam hati. “ Ada apa sayang? Mengapa kamu menangis ? ” tanyaku kembali.. Dia hanya menggeleng lemah sambil memandang ke arahku. “Baiklah.. tidak papa, kalau kamu tidak mau menyebutkan namamu, besok kita bertemu lagi ya.. akan aku bawakan roti yang lebih enak dari ini” kataku sambil tersenyum kepadanya. Begitu mendengar kata roti.. matanya berbinar dan segera mengangguk dengan cepat. “Oh ya.. nama tante Ranasya.. kamu boleh panggil Rana atau nasya.. apapun yang kamu suka , sekarang tante pergi dulu ya.. bsok kita ketemu lagi”. Akupun bangkit dari tempatku, bersamaan dengan langkah gadis kecil itu yang mulai meninggalkan diriku.  Kembali ke meja cafe dan Rangga.. eh.. Rangga.. aku teringat Rangga yang aku tinggalkan manyun di meja caffe.. Hmmm.. bakalan keluar uang buat traktir ini. Akupun berjalan kembali ke arah mejaku. “Assalamualaikum Ranggaa…“ sapaku dengan suara lembut “waalaikumsalam” jawabnya ketus.. “Hei.. jawab salamnya kok gitu… Rasulullah khan contohinnya ndak gitu” seruku sambil mataku membulat ke arahnya “Iya.. iya,.. waalaikumsalam tuan putri..” sahutnya dilembut-lembutkan  dengan bibir tetap manyun… “Haha… lebay deh.. “ sahutku sambil tertawa kecil mendengar gurauannya. “Ngejar siapa sih tadi.. sampai-sampai aku di tinggalin disini..” tanya Rangga penuh selidik , “Mau tau banget atau mau tau aja? “ sahutku sekenanya sambil mengemasi barang-barangku yang ada di meja, Rangga tambah manyun.. “Tanyain serius kok.. kamu kok kemas-kemas… kamu mau kemana Rana?” tanya Rangga kebingunagan “Ke kampus.. mau ketemu profesor Konrad” sahutku sambil berlalu.. “Yaa… Ranaaa.. terus aku gimana?” wajah Rangga yang manyun itu berubah menjadi wajah kucing imut yang memelas… “Iyaa.. nanti Rana telpon.. tentang si manis itu khan? gampaangg.. Assalamualaikum“ teriakku sambil meneruskan langkah kakiku. Rangga seketika tersenyum ketika aku sebut simanis.. ah Rangga-Rangga… ndak mungkinlah aku mengabaikan sahabat tersayang seperti kamu, meski batas-batas bukan muhrim itu tetap kujaga. Aku kembali meneruskan langkahku menuju kampus… Mister Konrad, my last destination. Eh.. salah.. ah.. Astaghfirullah.. segera bayangan yg menyeruak masuk ke fkiranku itu ku hapus cepat – Astaghfirullah kebiasaan lama yg cukup sulit hilang setelah aku mengazamkan diri menjadi seorang muslimah… hmm.. nakal kamu ini Rana.. Rana.. ( bersambung ke chapter two : rahasia air mata)

my man

 

Aku tahu, kamu bukan sosok berilmu agama yang pandai bermain kata

Tetapi yang kurasakan , engkau  berusaha keras meneladani lelaki mulia  (Muhammad SAW)

 

Aku tahu, kamu tidak hafal nama-nama Allah yang agung itu(Asmaul Husna)

Tetapi yang kurasakan, engkau berusaha senantiasa melandaskan keputusanmu berdasarkan asmaNya

 

Aku tahu, kamu bukan seorang penyair yang dapat menyusun kata-kata indah untukku

Tetapi  adamu dalam setiap langkah kakiku lebih dari cukup pengejawantahan syair-syairmu

 

Aku tahu, kamu bukan seorang penyayi yang bersuara merdu

Tetapi nada-nada hatimu, senantiasa syahdu bertautan dengan nada-nada hatiku

 

Aku tahu, kamu lelaki sederhana bukan idola para wanita

Tetapi bagiku, kamu lelaki terhebatku yang tak tergantikan

 

Aku tahu kamu bukan pria yang romantis yang bisa mengucapkan kata-kata cinta dengan indah

Tetapi bagiku, kamu mencintaiku hanya KarenaNya adalah hal  teromantis yang pernah ada

 

Aku tahu, kamu tidak setampan Yusuf, tidak setaat Ibrahim dan tidak sesempurna Muhammad

Tetapi bagiku, kamu suami dan ayah  yang sempurna

Aku  akan mencintaimu tanpa cela karenaNya , selalu – selamanya.

 

by Wahyu R

 

Cinta

 

Cinta…

Semayam indah dalam sukma

Meski hanya sosok wajah bercahaya

Getarannya tidak dapat diejawantahkan dalam kata

 

Cinta…

Debur halus lembut yang meluruhkan

Dalam kisah lebih indah dari sekedar romantisme dunia

Merubah  perempuan biasa menjadi bidadari elok rupa tanpa cela

 

Cinta…

Menjadikan diri sufi yang senantiasa menaburi diri dengan doa

Merengkuh dan menyelimuti dirinya dengan doa

Meluaskan jalan-jalan masa depan dengan sapuan doa yang tak berbilang

 

Cinta…

Sosok sederhana tanpa kata

ke tawadhuan diantara gemerlap dunianya

Yang menghempaskan diri sampai ke tubir kebahagiaan

Membumbung dalam kedamaian meniti jalan panjang ke surgaNya

 

Cinta…

Renik indah cahayaNya

Dalam genggaman masa  lalu – masa sekarang –  masa depan

Kembali dalam takdirNya

 

Cinta .. Indah ketika memanggil – menyentuh – menjamunya dalam doa.

 

by Wahyu R

Diri…

 

Dimana letak sombong itu ?

Aku tak tahu..

Yang aku tahu.. diriku menjadi merasa paling benar diantara lalat-lalat yg berterbangan

Dimana letak salah itu?

Aku tak tahu….

Yang aku tahu….  aku berusaha  membuat banyak alasan untuk pembenaran akan semua tindakkanku

Dimana letak nurani itu?

Aku tidak tahu…

Yang aku tahu, aku sulit melawan bisikkan kecil yang menyuruhku kembali kepada Sang pemilik Jiwa

Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan?

Aku tidak tahu…

Yang aku tahu…  ada satu gerakakkan  di dada yang membuatku merasa malu ketika harus bertemu denganNya

Lantas apakah itu ?

Aku sungguh tidak tahu…

Yang aku tahu… aku sudah menangis tersedu memegang semua persendian lututku memohon ampunan akan segala hal yang memenuhi dada dan fikirku yang tidak mau hilang kecuali aku mengakuinya di hadapanNya.

Aku, diriku dan egoku ketika berhadapan denganNya

Hanya setitik debu yang meraba mencari pengampunanNya.

 

By Wahyu R

KEMBALI

Kabut kelabu di dadaku

Sirnalah..

CahayaNya ingin masuk ke kalbuku..

 

Menghilanglah wahai noda hitam di kalbu

Ada sinar yang akan datang menggantikanmu

 

Kalbu.. sudahkah layak Dia menempatimu?

Sebersih apa kau sekarang?

Aku malu.. jika pemilikku tahu bahwa singgasanaNya

Terkotori oleh yang lain

 

Wahai pikiranku..

Siapa yang bersemayam disana?

CintaNyakah ?

Atau selainNya?

 

Wahai jiwa..

Kamu akan kembali pada pemilikmu

Sudahkah kamu tahu siapa pemilikmu?

Atau kamu malah belum kenal sama sekali dengan pemilikmu?

 

Semoga hadiah yang sedikit ini diterimaNya

Semoga pengorbanan kecil dari keinginan nafsu memperbolehkan diri mendapat cintaNya

Harap cemas menjadi satu dalam keharibaan kembali kepadaNya

Dalam jiwa-jiwa yang tenang .. yang merindukan rengkuhan kasih sayangNya

Semoga Engkau menerima persembahan kecil yang tidak artinya dibandingkan segala cintaMu yang melekat pada diri ini saat ini..

By Wahyu R

 

Kopi “Pahit”

Sejak semalam sudah aku siapkan semua bahan presentasi. Ku check satu persatu detil-detilnya. Lay out power point, materi, data-data.. yap Perfect! Seruku dalam hati. Tinggal menyiapkan baju, mental serta wajah fresh untuk presentasi. Baju ini saja, seruku dalam hati. Baju dan jilbab biru itu selalu nampak sederhana dan indah di tubuhku. Sholat dan tidur menjadi agendaku selanjutnya.

Pagi-pagi, setelah tahajud, memohon keberkahan hari ini , membaca Qur’an dan dilanjutkan sholat subuh menjadi agendaku hari ini. Ku check kembali kelengkapan materi presentasiku. Hmm.. still.. Perfect! Senyum kecilku mengembang. Alhamdulillah ya rabb.. terima kasih untuk hari ini. Mobil kecilku sudah menunggu di depan, mobil putih yang kubeli tahun lalu dari hasil kerja keras, menabung rupiah demi rupiah… Aahh.. betapa Allah sangat baik padaku.. dengan kemudahan-kemudahan yang diberikanNya setelah semua yang kusayangi dipanggilNya. Si manis menggelendot manja di kakiku, kucing yang dulunya liar yang sekarang berubah teramat sangat manja yang tidak pernah secara resmi kuambil sebagai peliharaan ikut menemaniku pagi itu. Aahh.. Subhanallah.. What a beautifull day seruku dalam hati. Rasanya kerja berhari-hari akan selesai hari ini.. dan kuharap hasilnya Great. Ya Allah Aamiin.

Kupacu pelan mobil yang tidak terlalu banyak memakan badan jalan itu, kubuka jendelanya, sambil menikmati udara dan suasana pagi.. menyapa orang-orang yang ku kenal di komplek perumahan tempatku tinggal. Subhanallah.. really.. this is beautifull day. Sampai di kantor.. masih sepi, hanya ada Pak bon yang kusapa dengan ramah seperti biasanya. Menanyakan kabar dan keadaannya. Melangkah menuju ruang kantorku, meletakkan mawar ke dalam vas yang kusempatkan mengambilnya dari kebun mawar di depan rumah. Sambil menunggu sekretarisku, aku membuka novel yang belum selesai ku baca – tentang kisah seorang putri dari India.

Menit demi menit berlalu, Vivi pasti sudah datang pikirku, kuletakkan novel yang sudah separuh ku baca,  kutekan nomer extension sekretarisku, “Gimana Vi.. persiapan untuk rapatnya.. ruangan, coffe break dan snacknya?” “Sudah siap bu, perfect” sahutnya dari ujung sana. “good… Thanks ya Vi.. Barakallah” ucapku pada sekretaris baruku yang baik hati dan lumayan cekatan… dan rasa-rasanya aku cocok dengannya.

Waktu menunjukkan pukul 8.00 WIB. Para undangan presentasi mulai berdatangan. Ku lihat sekilas pria berbaju garis-garis hitam yang aku tahu sejak dari tadi memperhatikanku di ruangan itu. “Ada apa pak?” tanyaku kepadanya .. “Cantik” serunya tertahan dan hampir-hampir tidak terdengar. “Apa pak?” tanyaku kembali..  “Ndak.. ndak papa..” sahutnya tersipu. Akupun tersenyum sekilas kepadanya dan mulai melanjutkan mempersiapkan hal-hal yang kubutuhkan untuk presentasi nanti, sesekali aku meminta sekretaris dan staff ITku untuk membantuku mempersiapkannya. What a wonderfull place.. tempat kerjaku di penuhi orang-orang yang hebat.

Ruang meeting sudah penuh, lengkap dengan semua undangan. Pak Komisaris, seperti biasa duduk tenang, dengan wajah teduhnya. Rapatpun di mulai, masing-masing kepala bidang mempresentasikan hasil berkutat lembur sebulan ini. Giliranku, Bismillaah.

Presentasiku selama tiga puluh menit berjalan lancar , di akhiri senyum puas dan pujian pak komisaris, para kolega juga ikut memberikan applause panjang. Aku tersenyum, Alhamdulillah ya Allah.. lancar.

Coffe breakpun menjadi acara selanjutnya. Aku berbincang santai dengan teman-teman sejawat sambil mengambil snack dan secangkir kopi, penghilang rasa kantuk gumamku dalam hati. Gula tiga sendok teh cukup membuat kopi ini terasa manis bagiku.  Hmm.. aneh juga aku hari ini, ndak biasanya,  biasanya aku lebih suka minum teh di jam-jam pagi begini – pencinta teh dibanding kopi. “Keyra.. selamat ya.. presentasinya bagus” ucap Rosi, sahabat dekatku sekaligus kepala bidang di bagian yang berbeda denganku. “Thanks ya Ros, setelah coffe break ini giliranmu ya.. gimana? Pasti ndak kalah keren dengan presentasiku..” Sahutku renyah pada Rosi. “Ya semoga”. Selanjutnya kamipun terlibat obrolan yang lumayan seru tentang visi misi kami. “Key.. ponselmu bunyi tuh..” tunjuk Rosi ke arah ponsel yang ku letakkan di atas meja.. “Oh iya.. Cuma.. sms kok” sahutku tidak terlalu hiraukan… “Buka ajaa., kali aja penting” paksa Rosi.. “Eh iya,,” . Ku ambil ponsel di atas meja.. ku buka – hmm dua pesan dari siapa ini… nomer tak terkenali? aneh.. seruku dalam hati . Bismillah..  “ Ada hubungan apa saudara dengan suami saya  – Raka ?, anda sering pergi berdua ya? bla.. bla… “ belum selesai aku membacanya,  mataku terasa kabur… seperti ditutup kabut pagi yang entah darimana datangnya.. tulisan di ponsel itu tak terbaca.. “Key.. key… ada apa… ? kenapa wajah kamu jadi berubah begitu?” suara Rosi terdengar samar-samar …. “Ah.. Eh.. endak Ros… ndak papa… ini .. ini.. Kopinya.. “ sahutku dengan suara bergetar yang tidak bisa aku tutupi,  sambil memegangi kepalaku … “Aku mau kebelakang sebentar Ros.. ”  “Ada apa dengan kopinya key?” tanya Rosi masih dengan nada keheranan.. “Kopi.. Kokopinya… Kopinya ‘Pahit’ Ros…” seruku tertahan… sambil menahan air mataku yang akan tumpah.. Ya Rabb.. kuatkan aku dari fitnah ini.. seruku dalam hati. Aku segera memalingkan muka dari Rosi, aku tidak mau air mataku tumpah di depannya, aku  segera berdiri meninggalkan Rosi yang melongo  melihatku yang tiba-tiba sempoyongan pergi meninggalkannya. “Key.. Keyra..” suara Rosi berusaha menghentikan langkahku, tapi aku terus berjalan. Susah payah aku  menahan aliran bening itu meleleh dipipiku, masih sempat ku dengar sayup-sayup suara laki-laki berkemaja garis-garis hitam itu.. “Kenapa Keyra ? mau kemana dia Ros? “.. “Ndak tau… katanya dia bilang kopinya ‘Pahit’ aneh pak…”  jawab Rosi sambil berlalu meninggalkan laki-laki berkemeja garis-garis hitam itu bingung sendirian ditempatnya.

11 november 2013 13.24 PM

Kisah fiksi ini di tulis di sela istirahat siang menjelang Rapat.

Antologi kopi  (woman perspective)

Thanks utk  yang sudah beri ide buat tulisan ini.

Inginku… Inginmu… InginNya..

Seandainya engkau tanya inginku?
tentu saja jawabku disini bersamamu…

Seandainya engkau tanya inginku?
tentu saja jawabku, ku tak ingin kamu pergi..

Seandainya engkau tanya mauku?
tentu saja jawabku, ku ingin kau selalu disisiku..

Seandainya engkau tanya apa yang aku inginkan tersimpan di dalam hatiku?
tentu saja jawabku, ku ingin selalu menemanimu.. dimanapun.. kapanpun..

Seandainya engkau tanya apa yang aku inginkan ada di dalam lubuk terdalam hatiku?
tentu saja jawabku, dirimu tersimpan rapi di dalam lubuk hatiku..

Tapi… 
terkadang hidup tidak seperti inginku dan inginmu..
terkadang hidup lebih pada inginNya..

Maka..  
Siapakah diri ini?
Tak lebih dari sebagai hambaNya..

Lalu.. 
Inginku dan inginmu tak akan pernah terwujud
jika tak sejalan dengan inginNya..

Lantas… 
Masihkah aku harus bersandar pada ingin kita?
jika ingin kita itu tak seperti inginNya?

Bertanya.. 
Sampai seberapa besar kadar cinta kita?
jika cinta kita tidak sejalan seperti cintaNya

Kemudian… 
Sampai seberapa besar pengorbanan kita untuk cinta?
Jika cintaNya yang mampu menyelamatkan cinta kita..

Apabila.. 
Hanya pada cintaNya kupalingkan cinta ini..
karena cintaNya yang dapat membahagiakan cintaku.. cintamu.. cinta kita..  
 
Sehingga..
Hanya inginNya kusandarkan ingin ini
karena hanya inginNya yang dapat menyelamatkanku, menyelamatkanmu dari nestapanya hidup fana dan nestapanya hidup abadi

Akhirnya..
Inginku.. Inginmu.. mengikuti inginNya..

Wahyu_R
8 Mei 2013
17.21WIB menjelang  Maghrib.. 

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑