Inspirasi :
Al Qur’an surat An Nisa’ : 9

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar

Bagaimana kabar Bapak/Ibu saat membaca tulisan ini? Kebahagiaan dan ketentraman menjadi harapan dan do’a saya untuk Bapak/Ibu semuanya. Amiiin.
Kali ini, kita akan membahas tentang karakter, Satu hal yang menjadi fokus Menteri pendidikan saat ini. Surat An nisa’ ayat 9 tersebut diatas, seakan mengingatkan kita kembali betapa pentingnya mendidik anak-anak kita menjadi manusia yang berkarakter.
Memulai tulisan mengenai karakter ini, mengapa karakter begitu penting ? dibawah ini saya akan menyajikan kembali data dan fakta yang bisa jadi Bapak dan Ibu telah mengetahuinya.
1. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill
2. Dari data US Department Health and Human Services tahun 2000 terungkap bahwa faktor risiko penyebab kegagalan anak di sekolah, termasuk putus sekolah, adalah rendahnya rasa percaya diri dan keingin tahuan, ketidakmampuan mengontrol diri, rendahnya motivasi, kegagalan bersosialisasi, ketidakmampuan bekerja sama, dan rendahnya rasa empati anak. Sukses seseorang di kemudian hari ternyata justru lebih banyak (80%) ditentukan oleh kecerdasan emosi, sedangkan sisanya (20%) oleh kecerdasan koginitif'(IQ). Dari ke-13 faktor penunjang keberhasilan, 10 di antaranya adalah kualitas karakter seseorang dan hanya 3 yang berkaitan dengan faktor kecerdasan (IQ).

Ke-13 faktor tersebut adalah (1 ) jujur dan dapat diandalkan, (2) bisa dipercaya dan tepat waktu, (3) bisa menyesuaikan diri dengan orang lain, (4) bisa bekerja sama dengan atasan, (5) bisa menerima dan menjalankan kewajiban, (6) mempunyai motivasi kuat untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri, (7) berpikir bahwa dirinya berharga, (8) bisa berkomunikasi dan mendengarkan secara efektif, (9) bisa bekerja mandiri dengan kontrol terbatas, (10) dapat menyelesaikan masalah pribadi dan profesinya. Tiga yang terakhir yang berkaitan dengan IQ, adalah (1 1 ) mempunyai kemampuan dasar (kecerdasan), (12) bisa membaca dengan pemahaman memadai, (13) mengerti dasar-dasar matematika (berhitung).

Surat An nisa’ ayat 9 dan Ke-dua data tertulis di data mengungkapkan betapa pentingnya seseorang memiliki karakter. Kecerdasan mengelola ( memperlakukan) diri dan mengelola (memperlakukan ) orang lain menjadi satu hal yang menentukan seseorang itu berhasil atau tidak.
Hal ini, menunjukkan betapa pentingnya mempunyai karakter yang positif. Lantas apakah karakter itu? Apakah karakter itu sudah bawaan sejak lahir atau bisa dibangun melalui pembiasaan-pembiasaan? Dan apa bedanya dengan watak atau kepribadian ? banyak term-term yang mungkin malah membingungkan kita.
Ditulisan ini, kita batasi tulisan kita untuk membahas mengenai karakter.
Definisi karakter menurut Wyne and Walberg, 1984 adalah menekankan pada sikap atau kata yang relevan secara moral , atau pengulangan beberapa sikap atau kata-kata.
Definisi karakter menurut Pritchard, 1988 adalah sebuah kumpulan yang kompleks dari kualitas-kualitas yang relatif tetap dari seseorang, secara umum memiilki konotasi positif ketika digunakan dalam diskusi mengenai pendidikan moral.
Secara umum, Huitt, W. (2004) dalam Moral and character development. Educational Psychology Interactive menyimpulkan bahwa karakter baik itu baik atau buruk dapat dipertimbangkan sebagai satu sikap yg dapat diobservasi ( walberg & Wynne, 1989). Karakter tersebut berbeda dengan nilai, dimana dalam nilai ada orientasi-orientasi dan pengaturan dimana karakter melibatkan tindakan atau pengaktifan dari ilmu pengetahuan dan nilai-nilai. Dari perspektif ini , nilai-nilai terlihat sebagai penyusun dari karakter. Dalam kontek model of human behavior, nilai-nilai memuat komponen kognitif dan afektif tetapi tidak komponen perilaku. Karakter memuat ketiga komponen tersebut.
Sedangkan Menurut Ratna Megawangi, Ph.D. , direktur eksekutif Institut Pengembangan Pendidikan Holistik Indonesia Heritage Foundation karakter berasal dari bahasa Yunani charassein, artinya mengukir hingga terbentuk sebuah pola. Jadi, untuk mendidik anak agar memiliki karakter diperlukan proses ‘mengukir’, yakni pengasuhan dan pendidikan yang tepat.
Sederhananya ( kalau menurut penulis ) : karakter adalah terolahnya potensi-potensi positif yang sebenarnya sudah ada pada diri manusia sejak lahir yang kemudian melekat menjadi sikap, perilaku dan cara merespon seseorang pada suatu stimulus ataupun kejadian baik di dalam maupun diluar dirinya.
Potensi positif yang sudah ada ini, jika diolah dengan baik maka akan terjadi penguatan dan melekat menjadi karakter positif pula. Tetapi sebaliknya, jika potensi positif tidak mengalami penguatan bahkan pelemahan, maka tidak akan terbentuk karakter positif bahkan akan berganti dengan karakter negatif.
Contoh mudahnya : Jujur, ketika potensi ini tidak mendapatkan penguatan atau tidak dibangun, bahkan yang terekam adalah kebohongan-kebohongan dan kebohongan-kebohongan tsb mendapat reson positif (penguatan) dari lingkungannya maka bisa jadi anak akan dengan mudah berbohong tanpa merasa bersalah.
Sekarang pertanyaannya.. Kapan dimulainya pendidikan karakter ini? Dan apa itu pendidikan karakter?
Menurut David Elkind & Freddy Sweet Ph.D. (2004), pendidikan karakter dimaknai sebagai berikut: “character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”.

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Muhammad Nuh mengatakan, pendidikan karakter harus dimulai sejak dini yakni dari jenjang pendidikan SD. Pada jenjang SD ini porsinya mencapai 60 persen dibandingkan dengan jenjang pendidikan lainnya. Hal ini agar lebih mudah diajarkan dan melekat dijiwa anak-anak itu hingga kelak ia dewasa.

Sedangkan menurut Ibu Ratna megawangi, pembentukan karakter dimulai sejak anak dilahirkan. Pembentukkan karakter yang seratus persen dilakukan oleh lingkungan ini, dapat dimulai sejak anak dilahirkan.
Lantas, dimana Islam berperan dalam Pendidikan karakter? Karakter seperti apa yang kita inginkan untuk anak-anak kita? Allah SWT memberikan jawabannya dalam Al Qur’an Surat Al Ahzab ayat 21 :” Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” . Rasulullah, seseorang yang berprinsip, seorang penyayang, pemegang janji, jujur, amanah, pemikir, visioner, sangat santun, dan masih banyak lagi karakter baik yg melekat pada diri beliaunya.

Dalam pelaksanaannya. Setiap orang yang berperan dalam pembentukkan karakter anak harus bergerak menuju fokus yang sama, bukan saling melemahkan. Sekolah dan rumah harus mempunyai kesamaan dalam visi dan misi dalam pembentukkan karakter anak.
Memang bukan perkara yang mudah, karena karakter bukan sebuah benda yg bisa kita bentuk secara kasat mata. Butuh energi yang luar biasa besar dari guru dan orang tua. Kesabaran, ketangguhan dan keistiqomahan dalam membentuk karakter anak. Ketiadaan persamaan visi dan misi antara rumah dan sekolah, akan membuat pembentukkan karakter anak hanya sekedar mimpi kosong belaka
Harapannya anak-anak tumbuh menjadi anak-anak yang berkarater dan berprinsip tanpa harus membatasi gerak sosialnya.
Dengan kesungguhan hati, kerja keras, keistiqomahan dan terus menerus memohon petunjuk pada yang memiliki jiwa, maka harapan akan lahirnya satu generesi yang berkarakter / berakhlaq mulia Insyaallah akan menjadi satu harapan yang berwujud nyata.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana caranya membentuk karakter sesuai usia anak? Insyaallah akan terjawab pada buletin Raudlatul Jannah yang akan datang. Tetap bersemangat untuk generasi bangsa yang lebih baik. ( Wahyu_r)
Sumber : dari berbagai media elektronik dan cetak.